Semua itu berkaitan dengan konsep sebuah bangsa dalam menyejahterakan
rakyatnya, dan tergantung kepada kemampuannya -melalui pemudanya- dalam menyesuaikan
diri terhadap berbagai perubahan yang selalu terjadi.Kualitas atau kadar rasa
kebangsaan seseorang sangat dipengaruhi diantaranya oleh faktor “mental
kebangsaan” dan “intelektual kebangsaan”. Mental kebangsaan yaitu memuat
nilai-nilai yang sangat manusiawi, seperti peduli terhadap masa depan pemuda
dan mencintai generasi penerus bangsa. Selanjutnya, Intelektual kebangsaan
memuat nilai kreatif untuk memikirkan dan menemukan solusi terbaik bagi
permasalahan kepemudaan, selalu berpikir jernih dan berpikir pembaharuan.
Tulisan ini akan memberikan penekanan pada peran yang akan dimainkan oleh generasi muda yang tengah belajar di Luar Negeri yang nantinya diharapkan kembali ke tanah air untuk bersama-sama membangun dan menyejahterakan bangsa tercinta. Aspek lokalitas “Luar Negeri” menjadi penting sebagai botton line penulis dalam menggagas, kenapa short course wawasan kebangsaan dibutuhkan bagi mereka. Apa kolerasi gagasan tersebut dengan problematika kebangsaan kita, seperti masalah kesejahteraan rakyat, saat ini dan juga di masa mendatang.? Mahasiswa Luar Negeri dan Tawanan LokalitasMenjadi mahasiswa di luar negeri sesungguhnya tidak selalu mengasyikkan, sebagaimana yang dibayangkan oleh banyak orang. Banyak suka duka dan problematika hidup yang justeru mungkin lebih besar ketimbang mereka yang berada di dalam negeri. Dalam konteks kebangsaan umpamanya, bisa dibilang mereka yang berada di luar negeri, -apalagi jika telah puluhan tahun meninggalkan tanah air- jelas pemahaman kebangsaannya tidak seluas mereka yang di dalam negeri. Interaksi dengan realitas masyarakat yang menjadikan mahasiswa dapat secara langsung memerankan fungsi sosialnya, juga lebih dapat dijalankan oleh mereka yang berada di dalam negeri. Maka peran yang tampak dominan pada gerakan mahasiswa di luar negeri, sejatinya adalah hampir sebatas intelektual, dan jika pun menyentuh aspek sosial, ia cenderung teraktualisasi melalui wacana transformatif an sich. Namun, sekalipun demikian beberapa perbedaan yang penulis sebut barusan, tidak dalam rangka mengecilkan fungsi dan peran salah satu kelompok mahasiswa atas yang lainnya, melainkan guna memetakan persoalan dilematis yang dihadapi oleh mahasiswa tersebut –khususnya yang berada di luar negeri- dikarenakan kenyataan geografis yang memisahkan mereka dengan entitas tanah airnya.